KDTRP-30 (Kuesioner Dampak Trauma Relasi Pengasuhan – 30 Item)

KDTRP-30 adalah kuesioner skrining/reflektif yang dirancang untuk memetakan pengalaman relasional dalam pengasuhan—seperti pengabaian emosional, ketidakpastian/ketakutan di rumah, dan parentifikasi—serta dampak psikologisnya pada kondisi saat ini, terutama dalam bentuk disregulasi emosi dan kesulitan kelekatan/keintiman. Semakin tinggi skor, semakin besar beban pengalaman pengasuhan yang bermasalah dan semakin berat dampaknya pada fungsi emosi maupun relasi.

KDTRP-30 disusun dalam Bahasa Indonesia dengan pernyataan yang netral, tanpa item reverse, sehingga mudah dipahami dan mengurangi bias kebingungan dalam pengisian. Instrumen ini dapat digunakan untuk dewasa muda hingga dewasa (sebagai versi default), serta dapat diadaptasi untuk remaja dengan penyederhanaan istilah tertentu (misalnya istilah “pasangan” diganti menjadi “teman dekat/relasi penting”). KDTRP-30 juga disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia dengan menekankan penilaian terhadap pola relasi dan dampaknya tanpa membangun narasi menyalahkan orang tua. Untuk kepentingan riset formal, disarankan dilakukan uji validitas isi melalui panel ahli, uji coba (pilot), uji reliabilitas (alpha/omega), serta analisis faktor (EFA/CFA) sebelum menetapkan cut-off normatif.

Tujuan KDTRP-30 adalah mengukur tingkat trauma relasi pengasuhan pada masa kecil sekaligus dampaknya saat ini, serta mengidentifikasi area dominan yang paling bermasalah—apakah pengabaian emosional, ketidakamanan pengasuhan, parentifikasi, kesulitan regulasi emosi, atau gangguan dalam kelekatan/keintiman. Manfaat praktisnya adalah membantu pemetaan kebutuhan intervensi (misalnya psikoedukasi trauma-informed, pelatihan regulasi emosi, atau rujukan terapi), sekaligus memudahkan penyusunan variabel penelitian yang lebih operasional seperti indeks trauma pengasuhan, disregulasi emosi, dan insecure attachment.

Cara pengisian KDTRP-30 dilakukan dengan memilih jawaban yang paling menggambarkan pengalaman responden secara umum. Untuk item yang berkaitan dengan masa kecil, responden diminta menjawab berdasarkan pengalaman sebelum usia 18 tahun atau selama tinggal dengan pengasuh utama. Skala jawaban menggunakan Likert 1–5, yaitu 1 = Sangat Tidak Sesuai, 2 = Tidak Sesuai, 3 = Cukup Sesuai, 4 = Sesuai, dan 5 = Sangat Sesuai.

KDTRP-30 bukan alat diagnosis dan tidak menggantikan asesmen profesional oleh psikolog/psikiater. Karena isi kuesioner dapat memunculkan emosi yang tidak nyaman, responden dianjurkan menghentikan pengisian bila merasa kewalahan, melakukan grounding sederhana (misalnya napas pelan dan orientasi pada lingkungan sekitar), lalu mencari dukungan aman atau bantuan profesional. Bila muncul risiko keselamatan, responden disarankan menghubungi layanan darurat setempat (Indonesia: 112).

Secara konseptual, KDTRP-30 memuat tiga variabel utama. Variabel pertama adalah Trauma Relasi Pengasuhan (TRP), yang menggambarkan pola relasi masa kecil yang merusak rasa aman dan terbagi ke dalam tiga dimensi: D1 Pengabaian Emosional (CEN), D2 Ketidakamanan dan Ketidakpastian Pengasuhan, serta D3 Parentifikasi dan People-Pleasing. Variabel kedua adalah Disregulasi Emosi (DE), yaitu kesulitan mengelola emosi pada masa kini yang dapat muncul sebagai lonjakan emosi yang intens atau sebaliknya mati rasa/kosong. Variabel ketiga adalah Kesulitan Kelekatan/Keintiman (KKK), yaitu pola relasi dewasa yang ditandai oleh kecemasan terhadap jarak emosional, kesulitan mempercayai orang lain, atau kecenderungan menarik diri saat konflik.

Penasaran dengan KDTRP-30 (Kuesioner Dampak Trauma Relasi Pengasuhan – 30 Item) Anda? Silahkan isi kusioner dibawah ini.

Saya kesulitan merasa aman sepenuhnya dalam hubungan dekat.

Saya sulit percaya bahwa orang akan tetap ada saat saya membutuhkan.

Di rumah, kebutuhan emosional saya sering dianggap tidak penting.

Saya terbiasa menahan diri karena takut respons pengasuh.

Saya sering menebak-nebak suasana hati pengasuh agar bisa “aman”.

Saat tertekan, saya sulit menenangkan diri tanpa bantuan eksternal.

Setelah tersulut emosi, saya butuh waktu lama untuk kembali stabil.

Suasana rumah saat kecil sering sulit diprediksi.

Saat kecil, saya merasa kedekatan dengan pengasuh tidak selalu aman.

Saat saya terluka secara emosional, saya sering menghadapi itu sendirian.

Saya merasa nilai diri saya banyak ditentukan oleh seberapa berguna saya bagi orang lain.

Saya sulit meminta bantuan karena merasa itu berisiko bagi saya.

Saat konflik, pikiran saya sering terasa kacau dan sulit fokus.

Hal kecil bisa memicu lonjakan emosi yang kuat pada saya.

Sejak kecil, saya merasa bertanggung jawab menenangkan emosi pengasuh.

Saya terbiasa menjadi “penengah” konflik di rumah sejak kecil.

Saat kecil, perasaan saya jarang ditanyakan oleh pengasuh.

Saat saya butuh validasi, saya lebih sering menerima pengalihan atau pengabaian.

Saya lebih sering mencari aman dengan cara menyenangkan orang lain.

Saya sering menafsirkan perubahan kecil (nada suara/ekspresi) sebagai tanda penolakan.

Saya sering menahan kebutuhan pribadi agar tidak merepotkan pengasuh.

Dalam situasi tertentu, saya bisa merasa mati rasa atau “kosong”.

Saat konflik, saya cenderung menarik diri atau menghindari pembicaraan.

Saya belajar menomorsatukan kebutuhan orang lain agar situasi tetap damai.

Saya sering merasa tegang di rumah meskipun tidak ada kejadian besar.

Saya jarang merasa benar-benar “dipahami” oleh pengasuh saat kecil.

Saya sering bereaksi secara impulsif ketika emosi saya naik.

Saat kecil, saya sering waspada agar tidak memicu kemarahan pengasuh.

Saat saya sedih, respons pengasuh sering tidak membantu saya merasa lebih tenang.

Saya sering cemas ketika orang yang dekat dengan saya menjaga jarak emosional.

Kenali Diri Anda Lebih Dalam, Temukan Potensi Terbaik Anda

Mari bergabung dengan komunitas kami untuk belajar, tumbuh, dan mencapai kesejahteraan mental yang lebih baik. Psikonesia hadir untuk menjadi mitra dalam perjalanan Anda menuju kebahagiaan, kedamaian batin, dan pemulihan.

Saya Ingin Bergabung