Relational Pattern Assessment (RPA) – Asesmen Pola Relasi Pasangan

RPA adalah instrumen asesmen psikologi terapan yang dirancang untuk memetakan pola dominan dalam hubungan romantis. Kuesioner ini tidak menilai “baik atau buruknya pasangan”, tetapi mengungkap bagaimana setiap pasangan mengekspresikan emosi, berkomunikasi, membangun keterikatan, menghadapi konflik, dan memenuhi kebutuhan emosional. Hasilnya membantu pasangan memahami dinamika relasional mereka secara jujur, objektif, dan terstruktur.

 Teori yang digunakan: Asesmen ini mengintegrasikan tiga fondasi ilmiah: Attachment Theory (Bowlby – Hazan & Shaver) untuk memahami pola kedekatan emosional, Emotion Regulation & Communication Theory untuk menganalisis ekspresi emosi dan komunikasi, serta Interpersonal Process Framework untuk mengevaluasi pola konflik, repair, dan pemenuhan kebutuhan relasional. Ketiga teori ini memberikan struktur sistematis untuk menilai dinamika hubungan secara menyeluruh.

 Variabel yang di ukur : Pola Emosi, Pola Komunikasi, Pola Keterikatan. Pola Konflik & Repair, Pola Kebutuhan Relasional

 Cara Penggunaan (Skala Likert): Responden menilai setiap pernyataan dengan skala 1–5: 1 = Sangat Tidak Setuju, 2 = Tidak Setuju, 3 = Netral, 4 = Setuju, 5 = Sangat Setuju

 Disclaimer : Kuesioner ini bukan alat diagnosis klinis, melainkan instrumen refleksi psikologis berbasis teori untuk memahami pola relasi. Jika hasil menunjukkan risiko tinggi, dianjurkan konsultasi dengan praktisi psikologi profesional.

Penasaran dengan Relational Pattern Assessment (RPA) – Asesmen Pola Relasi Pasangan Anda? Silahkan isi kusioner dibawah ini.

Kami mampu berdiskusi tanpa berubah menjadi pertengkaran.

Saya mampu mengungkapkan perasaan saya kepada pasangan secara terbuka.

Saya nyaman berbagi beban emosional dengan pasangan.

Saya merasa pasangan hadir secara emosional saat saya membutuhkannya.

Saya merasa aman dengan kedekatan emosional dalam hubungan ini.

Saya mampu tetap tenang saat menghadapi emosi yang intens.

Kami tetap fokus pada penyelesaian saat terjadi konflik

Setelah bertengkar, kami berdua berusaha membangun kembali kedekatan.

Pasangan saya mendengarkan saya dengan penuh perhatian.

Kami memiliki rutinitas yang memperkuat koneksi emosional.

Kami mampu meminta maaf dengan tulus.

Saya mudah membangun rasa percaya pada pasangan.

Saya merasa dihargai dan diperhatikan dalam hubungan ini.

Saya dapat mengenali emosi saya sendiri dalam situasi sulit.

Kami dapat mengakhiri konflik dengan perasaan lebih baik.

Kami saling memberikan umpan balik dengan cara yang membangun.

Saya merasa kebutuhan emosional saya direspons dengan baik oleh pasangan.

Saya yakin pasangan tetap bersama saya dalam situasi sulit.

Pasangan saya berusaha memenuhi kebutuhan emosional saya.

Saya dapat menyampaikan kebutuhan saya dengan jelas.

Saya tahu kebutuhan emosional utama pasangan saya.

Saya nyaman menunjukkan kerentanan saya pada pasangan.

Saya merasa pasangan memahami perubahan emosi saya.

Kami dapat menyelesaikan konflik tanpa saling menyalahkan.

Saya merasa didengarkan saat menyampaikan pendapat.

Kenali Diri Anda Lebih Dalam, Temukan Potensi Terbaik Anda

Mari bergabung dengan komunitas kami untuk belajar, tumbuh, dan mencapai kesejahteraan mental yang lebih baik. Psikonesia hadir untuk menjadi mitra dalam perjalanan Anda menuju kebahagiaan, kedamaian batin, dan pemulihan.

Saya Ingin Bergabung